A2K4 INDONESIA

BAB II - CONTINUAL PROFESSIONAL DEVELOPMENT (CPD)

CPD Ahli K3 Konstruksi

CPD atau Continual Professional Development bagi Ahli K3 Konstruksi adalah upaya meningkatkan dan memelihara keprofesionalan yang spesifik sesuai kriteria dari seseorang Ahli K3 Konstruksi secara berkesinambungan.

Seorang profesional harus selalu meng-update kemampuan dan kompetensinya, agar selalu mampu memenuhi tuntutan pelayanan kepada pengguna jasanya yang selalu meningkat kebutuhan dan harapannya dan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapinya dalam pelaksanaan proyek-proyek konstruksi. Oleh karena itu, seorang profesional harus selalu meningkatkan kemampuan dirinya dengan mengembangkan pengalamannya dan mengikuti pelatihan, workshop atau seminar yang sesuai dan selaras dengan keprofesionalan yang dimiliki tersebut.

Ahli K3 Konstruksi merupakan keahlian khusus yang dimiliki oleh seseorang yang harus selalu dikembangkan dan dipelihara kemampuannya untuk melayani harapan dan kebutuhan pengguna jasa dalam rangka melaksanakan kegiatan K3 di bidang konstruksi.

Penilaian keprofesian dilakukan berdasarkan standar kompetensi sebagai Ahli K3 Konstruksi. Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kompetensi dapat digambar- kan sebagai kemampuan untuk melaksanakan tugas atau peran menginteg- rasikan pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.

Pengembangan profesi K3 Konstruksi harus dilakukan melalui CPD kepada semua orang yang berprofesi sebagai Ahli K3 sejak dari jenjang Ahli Muda, Ahli Madya hingga Ahli Utama. Setiap peningkatan jenjang seorang Ahli harus dapat menunjukkan keaktifan peningkatan dan pemeliharaan profesi K3 Konstruksi. Pengembangan profesi tersebut

merupakan bagian dari pengembangan sumber daya manusia yang berlandaskan pada proses pembelajaran yang berkelanjutan dengan melalui beberapa metoda yang dapat diikuti, diantaranya yaitu:

a.  Pengalaman kerja, yaitu dengan menempatkan seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya di suatu tempat kerja, maka yang bersangkutan akan berupaya melakukan pembelajaran secara mandiri, sehingga terjadi upaya peningkatan untuk mencapai kompetensi keahlian sesuai yang diperlukan di tempat kerjanya. Tantangan untuk mampu menyelesaikan masalah di tempat kerja akan tercipta untuk menambah tingkat keterampilan dan sikap perilaku dalam menjalankan tugasnya.
b.  Bekerja magang, atau on the job training di suatu tempat kerja dengan bimbingan seseorang yang berpengalaman untuk mengasah kemampuannya mendapat pengetahuan dan ketrampilan di tempat kerja, sehingga ia mencapai tingkat kompetensi tertentu untuk melaksanakan tugas pekerjannya yang diperlukan.
c.   Mengikuti pendidikan dan pelatihan K3, dalam durasi waktu tertentu sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu untuk meningkatkan kompetensi peserta yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya di tempat kerjanya.
d.  Mengikuti Seminar dan Workshop K3, yaitu untuk menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan terutama pada ilmu-ilmu yang baru dalam kegiatan K3 yang bermanfaat bagi tugas dan kewajibannya di proyek-proyek konstruksi.

Metoda pengembangan sumber daya manusia K3 tersebut harus memiliki pola yang terencana dan dapat dilakukan evaluasi untuk mengukur tingkat kompetensi yang ada sehingga mampu secara profesional melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Ahli K3 Konstruksi, yang secara mandiri bekerja di proyek konstruksi untuk melakukan perencanaan, pembinaan dan pengawasan K3 di tempat kerja dalam rangka memberikan perlindungan kepada manusia, properti dan sumber daya lainnya serta lingkungan sekitar.

CPD harus memperhatikan penilaian di setiap jenjang keahlian K3 Konstruksi harus berdasarkan pada pengalaman kerja di bidang K3 dan keikutsertaan pelatihan, seminar dan lain sebagainya yang selaras dengan K3, yang dinilai secara portofolio terhadap bukti-bukti otentik yang terkait. BSA telah menyediakan Buku Kinerja Profesi Ahli K3 Konstruksi kepada para Ahli untuk merekam pengalaman kerja dan tindakan-tindakan yang telah dilakukan terkait K3 Konstruksi, yang selanjutnya BSA akan melakukan penilaian dengan melakukan verifikasi dan validasi kesesuaian rekaman pada Buku Kinerja Profesi Ahli K3 Konstruksi tersebut.

 

Aspek Kecakapan Ahli K3 Konstruksi

Seorang Ahli K3 Konstruksi harus memiliki kompetensi yang telah teruji sesuai kriteria persyaratan SKKNI di bidang K3 Konstruksi, sehingga dianggap mampu melaksanakan kewenangan dan kewajiban merencana- kan, membina dan mengawasi penerapan dan ditaatinya semua peraturan dan persyaratan K3 pada kegiatan proyek konstruksi. Pemenuhan kriteria kompetensi tersebut harus melalui uji kompetensi yang sistematis selaras dengan aspek kecakapan yang harus dimiliki oleh Ahli K3 Konstruksi.

Sebagaimana fungsi dan keberadaan Ahli K3 adalah merencanakan, membina dan mengawasi dilaksanakannya kegiatan K3 tersebut, maka seorang Ahli K3 akan memiliki tanggung jawab yang berat sesuai kebutuhan pelaksanaan proyek konstruksi yang berisiko tinggi, yaitu kemampuan diri yang bersifat kognitif, psykhomotorik dan afektif yang terpadu sebagai Ahli K3 tersebut yang harus teruji sesuai persyaratan kompetensi yang telah ditetapkan dalam SKKNI yang ditetapkan untuk itu.

Untuk mendukung kemampuan dan tanggung jawab Ahli K3 Konstruksi tersebut, maka diperlukan 5 (lima) aspek kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang Ahli K3 Konstruksi dalam proyek konstruksi, yaitu :

a.   Aspek Kecakapan Hukum, Peraturan-perundangan dan Kontrak Kerja.
b.   Aspek Kecakapan Ke-Engineering-an Konstruksi.
c.   Aspek Kecakapan SMK3.
d.   Aspek Kecakapan PenangananTanggap Darurat.
e.   Aspek Kecakapan Pelatihan, Konsultasi, Komunikasi dan Kesadaran Budaya K3.

Aspek-aspek kecakapan tersebut harus mendasari pengetahuan, keterampilan dan perilaku seorang Ahli K3 Konstruksi, sehingga ia mampu bekerja dan memecahkan permasalahan yang terjadi di proyek konstruksi.Ke 5 (lima) aspek kecakapan tersebut sangat diperlukan untuk mendukung seorang Ahli K3 Konstruksi dalam melaksanakan tugas-tugasnya di proyek- proyek konstruksi, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

A.  Aspek Kecakapan Hukum, Peraturan-perundangan dan Kontrak Kerja

Seorang Ahli K3 harus memahami semua ketentuan tentang hukum dan peraturan perundangan yang mengatur K3 yang telah diterbitkan oleh pemerintah, termasuk standar-standar K3 yang diterbitkan oleh lembaga- lembaga nasional atau internasional.
Ahli K3 juga harus memahami aturan mengenai kontrak kerja antara badan usaha dengan pihak-pihak lainnya, termasuk kontrak dengan individu-individu yang terkait, mengenai kebutuhan K3 yang harus diselenggarakan oleh masing-masing pihak.
Dengan demikian sebagai Ahli K3 Konstruksi harus pernah melaksanakan kegiatan untuk proyek konstruksi yang terkait dengan hukum, peraturan- perundangan dan kontrak kerja tersebut, misalnya :

  • Menyusun kontrak kerja proyek konstruksi yang terkait dengan K3,
  • Mengelola dan mengorganisasi kegiatan P2K3,
  • Mengurus dan mengelola perijinan ke Disnaker setempat,
  • Mendokumentasikan Peraturan perundangan dan  Standar-standar terkait K3,
  • Dan lain sebagainya.

    Peraturan perundangan menyangkut Undang-undang, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Dirjen, Peraturan Daerah yang ditetapkan dan diterbitkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

    Disamping itu standar-standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan/atau Internasional yang mengatur ketentuan-ketentuan tentang K3, untuk melindungi pekerja, property dan lingkungan yang harus menjadi perhatian bagi Ahli K3 dalam melaksanakan setiap proses kerja pelaksanaan proyek konstruksi. Disamping itu Ahli K3 Konstruksi harus mampu untuk memahami dan mengelola persyaratan kontrak kerja antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa maupun pihak lainnya.

    Dengan demikian Ahli K3 Konstruksi harus dapat mendokumentasikan semua peraturan perundangan dan standar-standar nasional atau internasional yang masih berlaku dan selalu mereview apabila untuk dijadikan acuan dalam penerapan K3 pada pelaksanaan proyek konstruksi.


    B. Aspek Kecakapan Ke-Engineering-an Konstruksi

    Seorang Ahli K3 Konstruksi yang bekerja di proyek konstruksi harus memahami proses kerja pelaksanaan proyek konstruksi, maka ia harus memahami ilmu pengetahuan dan teknik-teknik dasar serta metodologi proses kerja dalam pekerjaan konstruksi.

    Seorang Ahli K3 Konstruksi di dalam tugas dan kewajibannya merencanakan, membina dan mengawasi K3 dalam pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan, bagaimana kalau ia tidak mengerti proses yang dilaksanakan tersebut ?, maka ia tidak akan dapat memberikan arahan dan advis tentang K3 yang harus diperhatikan pada pekerjaan tersebut.

    Kegiatan K3 pada pekerjaan bangunan gedung harus dikelola oleh Ahli K3 yang memahami proses kerja pekerjaan gedung, kegiatan K3 pada pekerjaan jalan dan jembatan harus dikelola oleh Ahli K3 yang menguasai pekerjaan jalan dan jembatan. Kegiatan K3 pada pekerjaan mekanikal elektrikal harus dikelola oleh Ahli K3 yang menguasai pekerjaan mekanikal elektrikal. Kegiatan K3 pada pekerjaan pertambangan harus dikelola oleh Ahli K3 yang berlatar belakang Ahli Tambang juga. Demikian pula kegiatan K3 pada pekerjaan pemboran minyak harus ditangani oleh Ahli K3 yang ahli-ahli pemboran minyak, demikian selanjutnya.

    Ahli K3 yang bekerja tanpa memiliki dasar pengetahuan dan keterampilan ke-Engineering-an yang sesuai dengan proses kerjanya, maka ia tidak akan tahu dan tidak peka terhadap potensi risiko bahaya yang akan terjadi dalam melak- sanakan pekerjaannya. Ia tidak dapat memperhitungkan dampak yang akan terjadi, akibat adanya penyimpangan proses produksi yang tidak dikuasainya.

    Seorang Ahli K3 selayaknya memahami dan menguasai ke-Engineering- an proses kerjanya yang ditambah dengan kemampuan aspek lainnya, maka ia akan mampu menganalisis potensi bahaya yang akan terjadi, mela- kukan penilaian risiko yang bakal terjadi dan menetapkan pengendalian untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

    Agar seorang Ahli K3 memahami proses kerja pekerjaan konstruksi, maka setidaknya ia pernah menjadi Site Enginer atau Site Manajer atau Kepala Pelaksana Proyek dalam masa kerja minimal 1 (satu) tahun.

     

    C. Aspek Kecakapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

    Seorang Ahli K3 harus memiliki pemahaman terhadap SMK3 untuk mengelola proses produksi dengan memperhatikan unsur-unsur pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang berpotensi dapat merugikan manusia, material, peralatan dan lingkungan di tempat kerja.

    SMK3 menyangkut komitmen dari pimpinan proyek atau pimpinan perusahaan, hingga seluruh pekerja untuk mengelola manajemen sebaik mungkin dalam rangka melindungi dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja kepada setiap pekerja, properti, material dan lingkungan di sekitar pekerjaan konstruksi.

    SMK3 menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian, pemantauan dan kaji ulang manajemen yang dilaksanakan secara periodik dan berkesinambungan. Intinya setiap proses produksi harus direncanakan sebaik mungkin termasuk perencanaan pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dilaksanakan sesuai prosedur- prosedur dan instruksi kerja yang ada, diperiksa kesesuaian pelaksanaannya, apakah sudah memenuhi persyaratan?. Kemudian dilakukan tindakan perbaikan jika diperlukan dan dikaji ulang untuk disusun rencana yang baru lagi. Demikian seterusnya sehingga terjadi proses kerja yang berkesinambungan dengan memperhatikan kaidah- kaidah pencegahan kecelakaan kerja dapat dilaksanakan secara efektif. Proses produksi yang baik selalu mengacu pada sistem manajemen berbasis PDCA (Plan Do Check Action).

    Seorang Ahli K3 harus memahami dan memiliki pengalamanan mengelola sistem manajmen yang memperhatikan perlindungan dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja tersebut, diantaranya yang memiliki pengalaman :

    • Menjadi pejabat Manajemen Reperesentative SMK3,
    • Penyusunan dokumentasi SMK3 Perusahaan,
    • Penyusunan RK3K Proyek Konstruksi,
    • Melakukan Audit SMK3,
    • Dan sebagainya yang terkait SMK3.


      D. Aspek Kecakapan Penanganan Tanggap Darurat

      Sebagai Ahli K3 harus menguasai sistem penangangan tanggap darurat, yaitu ilmu dan teknik melakukan tindakan yang tepat pada saat terjadinya insiden kecelakaan kerja atau musibah yang terjadi untuk meminimalisir korban yang terjadi, misalnya: gempa bumi, kebakaran, bangunan runtuh, longsor dan lain sebagainya.

      Ahli K3 harus menguasai dan mampu memimpin kegiatan evakuasi, saat insiden terjadi pada umumnya orang panik untuk menyelamatkan diri dan menyelamatkan barang-barang berharga lainnya. Seorang Ahli K3 tidak boleh ikut panik dan bengong saat terjadi insiden kecelakaan kerja atau musibah tersebut, ia harus tetap tenang mampu berfikir dan memimpin serta mengarahkan orang-orang lainnya kemana harus pergi mengikuti jalur evakuasi yang telah ditunjuk untuk penyelamatan diri menuju tempat yang aman (assembly point).

      Seorang Ahli K3 harus memahami tata cara dan metodologi pemadaman
      kebakaran menggunakan APAR (Alat Pemadan Api Ringan) dan mampu memimpin kegiatan pemadaman kebakaran pada suatu musibah kebakaran, disamping itu, melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan pada para korban kecelakaan kerja, serta berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait untuk memberikan bantuan dalam penyelamatan korban kecelakaan kerja.
      Penilaian yang diberikan pada aspek kecakapan penanganan tanggap
      darurat diantaranya yaitu :

      • Melakukan simulasi insiden bencana (gempa bumi, longsor, banjir, kebakaran dll),
      • Melakukan simulasi evakuasi suatu bencana (gempa  bumi, kebakaran dll),
      • Melakukan investigasi atas musibah kecelakaan kerja,
      • Mengikuti pelatihan pemadaman kebakaran,
      • Dan lain sebagainya terkait dengan penanganan tanggap darurat.


      E. Aspek Kecakapan Pelatihan, Konsultasi, Komunikasi & Kesadaran Budaya K3

      Ahli K3 harus mampu mengkomunikasikan apa yang dipahami tentang kebijakan dan aspek-aspek K3 yang telah ditetapkan kepada orang lain, baik kepada pimpinan, kepada para pekerja maupun kepada orang lain di sekitar tempat kerja proyek konstruksi yang ditanganinya.

      Seorang Ahli K3 harus menguasai tata cara dan metodologi penyelenggaraan suatu pelatihan dan konsultasi K3, serta menguasai teori komunikasi yang persuasif dalam memberikan pemahaman kepada orang lain untuk bekerja dengan selamat dan sehat dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk hidup selamat, sehat, damai dan sejahtera bersama keluarga.

      Setiap individu manusia telah diciptakan memiliki watak dan karakter yang berbeda-beda, maka seorang Ahli K3 harus mampu memberikan pemahaman dan kesadaran kepada setiap orang yang berbeda-beda karakternya tersebut dengan berbagai metoda dan cara dengan tujuan agar mereka memiliki kesadaran (awareness) berbudaya K3 untuk melindungi dirinya terhadap kecelakaan kerja dan penyakit kerja yang mungkin terjadi.

      Oleh karena itu seorang Ahli K3 harus mampu memberikan nasihat, advis atau arahan tanpa menyakiti hati orang tersebut, bahkan mampu menyadarkan orang untuk tetap menjaga keselamatan dan kesehatannya dalam melaksanakan setiap proses kerja pelaksanaan proyek konstruksi.
      Penilaian yang mungkin dilakukan bagi aspek kecakapan tersebut diantaranya adalah :

      • Menyelenggarakan Pelatihan K3 di proyek
      • Memimpin Safety Meeting
      • Menjadi Instruktur/Narasumber K3
      • Menjadi Pembicara Seminar, WorkShop
      • Menulis Naskah K3 di Publik News atau Journal Nasional & Internasional
      • Menulis Buku tentang K3
      • Dan sebagainya

       

      Buku Kinerja Profesi K3 Konstruksi

      Buku Kinerja Profesi K3 Konstruksi diberikan kepada para Ahli K3 Konstruksi yang diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan kinerja kompetensi sebagai bagian dari CPD bagi setiap Ahli K3 Konstruksi yang dimaksudkan untuk merekam semua kegiatan yang terkait dengan K3 Konstruksi di tempat kerjanya. Kegiatan-kegiatan yang harus dicatat adalah kegiatan yang sesuai dengan aspek kecakapan Ahli K3 Konstruksi seperti dibahas diatas.

      Setiap kegiatan dicatat pada setiap halaman catatan dan harus ditandatangani oleh pimpinan yang berwenang pada kegiatan yang bersangkutan (lengkap dengan nama dan cap penyelenggara).

      Setiap kenaikan jenjang catatan-catatan kegiatan tersebut harus dilakukan verifikasi dan validasi terlebih dahulu oleh BSA untuk mendapatkan nilai point kegiatan. Penilaian harus berlandaskan pada prinsip-prinsip penilaian porto folio yaitu: Kelayakan, Keaslian, Kecukupan, Kekinian dan Konsisten terhadap standar yang berlaku.

      Share